Showing posts with label Agung Rulianto. Show all posts
Showing posts with label Agung Rulianto. Show all posts

Friday, August 13, 2010

Jati Unggul di Atas Emas

MUNGKINGKAH hutan jati Indonesia yang kian gundul bisa segera hijau? Mimpi itu bisa menjadi kenyataan kalau saja penemuan bibit jati unggul dari hasil kerja sama Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Seameo Biotrop Bogor, serta PT Pupuk Kalimantan Timur dapat didayagunakan secepatnya. Rabu pekan lalu, ketika Hatta Radjasa, Menteri Negara Riset dan Teknologi yang juga Kepala BPPT, mengunjungi Pusat Pe-nelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi BPPT di Serpong, Jawa Barat, bibit jati yang bisa berusia produktif sepertiga dari jati biasa itu ditunjukkan oleh tim peneliti tersebut.

Jati lebih cepat produktif itu berasal dari induk jati spesies Tectona yang mempunyai kayu berkualitas kelas satu. Biasanya kayu jati yang banyak tumbuh di sekitar Cepu, Jawa Tengah, ini bisa dipanen dengan diameter 45 sentimeter kalau usianya sudah 30-45 tahun. Namun, jati unggul hasil rekayasa BPPT hanya membutuhkan waktu 15 tahun untuk mencapai kayu bergaris tengah seperti itu. Tanaman unggul ini juga menghasilkan kayu kualitas kelas dua atau kelas tiga atau mendekati kelas induknya.

Jati ala BPPT diperoleh lewat teknik kultur jaringan. Dengan teknik ini, jaringan tumbuh dari sebuah pohon jati induk berusia di atas 80 tahun diambil untuk dibiakkan sebagai kultur utama di media agar-agar. Kebutuhan hidup jaringan itu dipenuhi, dari nutrisi, zat pengatur tumbuh, hormon, antihama, bakteri, hingga antibiotik.

Dari tiap-tiap media lantas diperoleh lima subkultur. Setiap subkultur dikenai perlakuan seperti jaringan induknya, untuk menghasilkan lima subkultur kedua. Begitu seterusnya sampai subkultur keenam. Pembiakan berikutnya tak dilakukan lagi lantaran dikhawatirkan terjadi perubahan sifat genetis yang drastis.

Untuk memperoleh satu subkultur, diperlukan waktu sebulan. Artinya, dari pembiakan selama enam bulan, kultur utama telah menghasilkan 15.625 (dari lima pangkat enam) bibit jati hingga subkultur keenam. Namun, tak semua bibit yang dihasilkan berkualitas bagus. "Kalau bisa mendapat 20 persen saja, itu sudah bisa dikatakan berhasil," ujar Dr. Nadirman Haska dari BPPT.